Bola  

Pernyataan Kapolri Tidak Ada Pembunuhan dalam Tragedi Kanjuruhan Bikin Aremania Kecewa

Infografik Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022

Senin, 2 Januari 2023 – 21:48 WIB

VIVA Bola – Aremania kembali kecewa dengan pemerintah atas penanganan Tragedi Kanjuruhan. Kali ini mereka kecewa dengan pernyataan Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang menganggap Tragedi Kanjuruhan tidak memenuhi unsur pasal pembunuhan. 

Salah satu Aremania yang aktif memperjuangkan Usut Tuntas yakni Helmi Saudi Umar. Dia menilai pernyataan Listyo Sigit justru menunjukan ketidak seriusan Polri dalam menangani Tragedi Kanjuruhan. Padahal peristiwa ini membuat 135 orang meninggal dunia. 

“Tidak dipenuhinya Tragedi Kanjuruhan sebagai kasus pembunuhan, ini semakin memperjelas ketidak seriusnya Polri dalam menangani tragedi yang menewaskan 135 nyawa suporter. Kami rasa pernyataan Kapolri hanya akan menimbulkan polemik dan opini miring dikalangan Aremania terhadap polri dalam kasus ini,” kata Helmi, Senin, 3 Januari 2023.

Aremania tuntut Pelanggaran HAM Berat di Kanjuruhan.

Aremania tuntut Pelanggaran HAM Berat di Kanjuruhan.

Aremania menilai ada beberapa sebab yang membuat mereka meyakini adanya dugaan pidana pasal 338 dan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan dan pembunuhan berencana. Pertama banyaknya korban meninggal dunia karena kepanikan akibat tembakan gas air mata. 

Suporter yang sedang berada di tribun panik dan mencari jalan menuju pintu keluar stadion. Kepanikan inilah yang membuat mereka saling berdesak-desakan dan membuat 135 jiwa meninggal dunia dan 600 lebih terluka. 

“Sederhana saja kami melihatnya, ini ada 135 korban jiwa yang meninggal. Jelas-jelas tragedi ini pecah karena terjadi kepanikan sebab tembakan gas air mata yang di arahkan ke tribun. Dari beberapa video yang beredar juga sangat meyakinkan aparat secara represif mengarahkan dan menembak secara sadar dan sengaja ke arah tribun,” ujar Helmi. 

Halaman Selanjutnya

Helmi menyebut sikap pemerintah dan Polri dalam penanganan Tragedi Kanjuruhan bisa memicu rasa ketidakpercayaan publik pada polisi. Sampai saat ini saja gelombang protes dari Aremania di Kota Malang terus berlanjut. Spanduk dan poster usut tuntas ditemukan bertebaran di sudut-sudut Kota Malang. 

img_title

Sumber: www.viva.co.id